wisata
Destinasi Wisata Pekalongan, Pesona Kota Tua – Pecinan

Destinasi Wisata Pekalongan – Di salah satu spot kota Pekalongan, tepatnya terletak di ujung Jalan Belimbing – kawasan Pecinan, diantara Gedung-gedung tua saling berhadapan yang terlihat kontras dihiasi jalan beraspal mulus terdapat Klenteng Po An Thian yang bersisian dengan Gereja ST. Petrus. Dan tak jauh dari sana, juga berdiri megah Masjid berkubah kuning. Tidak dapat di pungkiri, disini membuktikan bahwa harmonisasi dari perbedaan itu indah adanya.
Ini adalah satu bagian dari destinasi wisata Pekalongan yang membuat kita masyarakat Indonesia patut bersyukur dengan pemikiran besar nan bijaksana para founding fathers saat meletakan landasan ideology bangsa; Bhineka Tunggal Ika.
Indonesia memang sebuah negara besar dengan segenap keanekaragaman sosial didalamnya. Baik suku, budaya, ras, agama, dan lainnya.
Pekalongan sebagai kota perlintasan utama jalur Pantura, ternyata menyimpan kekayaan berupa ratusan bangunan cagar budaya (heritage) yang layak untuk masuk dalam catatan destinasi (tujuan) wisata anda. Hal ini pula yang mungkin menjadi wilayah penting masa kolonialis Belanda. Itu terbukti dengan banyaknya warisan bangunan bergaya Ardeko-indis di kota ini.
Pada tahun 2011 lampau, Tim Inventarisasi Bangunan Cagar Budaya Kota Pekalongan telah mengekspose temuan sebanyak 286 bangunan kuno, yang bisa dikategorikan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB). Bangunan-bangunan tersebut dibangun antara tahun 1930 hingga 1970. Sebagian besar bangunan tersebut dikelola oleh perorangan dan sisanya pemerintah.
Beberapa kawasan dengan nuansa Kota Tua melengkapi kedahagaan pengunjung akan daya tarik masa lalu seperti kawasan Jatayu (alun-alun Utara) dengan berbagai bangunan heritage seperti Kantor Pos, Greja Protestan (kini dipakai untuk ibadah GKJ Pekalongan), Gedung Societet (kini GOR Pekalongan), bekas kantor DPU (kini dipakai sebagai kantor Batik TV), Gedung Pertani, serta rumah mantan Pembantu Gubernur (Residence) Wilayah Pekalongan yang dibangun pada tahun 1850 (serta eks gedung kantor eks Pembantu Gubernur, berdiri terpisah di kawasan THR Pekalongan).
Kawasan alun-alun utara Kota Pekalongan di Jalan Jetayu pada dasarnya sudah dikenal sebagai tempat kesenian dan kebudayaan sejak zaman kolonial. Di tempat tersebut terdapat bangunan tua seperti, bekas kantor pusat industri gula zaman penjajahan Belanda yang sekarang dimanfaatkan sebagai museum batik nasional.
Tidak hanya itu, masih terdapat sederet bangunan yang seolah ingin bercerita tentang berjuta kisah yang pernah terjadi pada masa lalu. Tersebar di 13 kawasan, diantaranya adalah masjid Jami Kauman, kantor dinas kesehatan, inspektorat daerah dan Rumah Tahanan Kota Pekalongan. Gedung pendidikan Satya Wiguna, Stasiun Kereta Api Pekalongan, dan Kantor Pelabuhan Perikanan Samodra, Kerkop atau makam Kristen di Kelurahan Panjang Wetan, Pekalongan Utara. Masjid Aulia di komplek pemakaman umum Sapuro, merupakan masjid tertua di kota Pekalongan, berusia 299 tahun (didirikan tahun 1135 H atau 1712 M). Konon dari kawasan mesjid inilah, penyebaran agama Islam dilakukan di kawasan Pantura.
Antara Pekalongan dan Pecinan

Gapura Pecinan Pekalongan | Photo : cintapekalongan.com
Dari catatan sejarah, hubungan antara negeri Cina dengan Jawa sudah terjalin lama dan berumur sangat tua. Diceritakan, seorang peziarah Cina bernama Fa-Hien sempat singgah di Jawa setelah mengunjungi tempat-tempat suci di India dan Ceylon. Fa-Hien menyebut Ya-va (Jawa) dalam laporan pertama tentang keberadaan umat hindu di jawa. Sejak saat itu pemerintah Cina mengadakan hubungan diplomatik dengan Ya-va (Jawa).
Semenjak itu banyak orang-orang Cina khususnya pedagang Cina yang singgah ke Jawa termasuk ke Pekalongan, bahkan jauh sebelum orang-orang Eropa datang. Namun, kapan tepatnya mereka pertama kali mendaratkan kapal di wilayah Pekalongan tidak diketahui pasti. Hanya diperkirakan sekitar abad 17 Masehi. Hal ini bedasarkan naskah kuno Tiongkok ” Yitoung Techi” (Geografi Akbar) yang dibuat pada masa Dinasti Ming.
Nashkah tersebut menyebutkan lokasi “Pou-Kia-Lung” di perbatasan negeri Jawa,sebelah timur berbatasan dengan “negeri yang dipimpin seorang wanita”, sebelah barat dengan kerajaan “Shi-Li-Fout-Shi” (Sriwijaya), sebelah selatan dengan kerajaan Ta-Chi dan sebelah utara dengan kerajaan “Tsiem-Pa (Campa).
Dengan demikian, nama Pekalongan sudah dulu ada, tetapi bukan berasal dari kata Pau-Kia-Loung melainkan sebaliknya, istilah Pau-Kia-Loung diambil dari nama Pekalongan.
Selain itu, Dinasti Sung yang berkuasa di Cina anata tahun 960 sampai 1279 M juga mempunyai catatan tersendiri tentang Pekalongan yang biasa disebut oleh para pedagang Cina dengan nama “Pu-Kau-Lung” dengan Rajanya yang memiliki rajutan rambut di bagian belakang Kepalanya. Sedangkan rakyatnya bertubuh pendek dan memakai kain tenun berwarna-warni (diduga Batik). Kapal dagang Cina berlayar dari kanton pada bulan November menggunakan bantuan angin,sampai di “Pu-Ka-Long” (Pekalongan) sekitar satu bulan kemudian.
Sedangkan menurut M Huan (Sekretaris Laksamana Ceng Ho) pada abad 19 ketika ia singgah di Pekalongan. Disebutkan pada waktu itu orang-orang Cina sudah tinggal di kampung Sampangan yang letaknya dekat dengan sungai Kupang (Sekarang Sungai Loji). Pekalongan pada saat itu disebut dengan istilah Wu-Chueh (Pulau dengan Pemandangan Indah), dan sudah dihuni oleh orang pribumi, Cina dan beberapa orang Arab. Dahulunya para pedagang Cina ini mengangkut dagangan mereka menggunakan Prahu yang melintasi sungai Kupang dari Pelabuhan.
Kondisi Kampung Cina Pekalongan
Munculnya pemukiman di kampung Sampangan merupakan awal perkembangan Pekalongan selanjutnya. Dahulu sungai Kupang sebagai pangkalan pelabuhan dagang antar pulau. Kawasan ini dikenal dengan istilah “Pintu Dalam”. Oleh pemerintah Kolonial Belanda, akhirnya wilayah ini dijadikan pemukiman khusus warga Tionghoa.
Penguasa Kolonial Belanda, membagi-bagi pemukiman sesuai etnis mereka masing-masing, bukan masing-masing etnis ini saling menutup diri dan tidak saling berbaur. Pembagian ini bertujuan agar pemerintah Kolonial Belanda bisa mengontrol populasi dan kriminalitas di Pekalongan.
Kawasan untuk Warga Tionghoa ini diberi nama “Chinese-Wijk” yang terdiri dari wilayah Keplekan Lor (Jalan Sultan Agung) dan Keplekan Kidul (Jalan Hasanudin).
Wilayah Pintu Dalem ini merupakan akses masuk ke Pecinan di Pekalongan. Pada masa Kolonial Belanda, pintu dalem terletak di pertigaan sebelum Gereja Santo Petrus dan disana terdapat sebuah bangunan tua (Gapura) milik Kapiten Tionghoa yang sampai sekarang masih berdiri.
Selain di wilayah Keplekan, pemukiman Tionghoa juga ada di sekitar kawasan Kerimunan (Jalan Salak dan Jalan Manggis). Ada sebuah peninggalan sejarah kejayaan Kampung Pecinan ini di Kota Pekalongan yang masih bisa kita lihat sampai sekarang. Di kawasan Jalan Belimbing, disana terdapat rumah-rumah khas Cina yang dibangun pada masa Kolonial dan sebuah Kelenteng yang berdiri di bantaran Kali dekat Jembatan Loji (Belakang Gereja).
Selain itu, dalam catatan Liem Bwan Tjie (tokoh pelopor arsitektur modern generasi pertama di Indonesia) menyebutkan bahwa pada tahun 1934 di Jalan Juliana Weeg (Jalan Belimbing), terdapat sebuah rumah megah milik seorang pengusaha Cina dengan kolam renang didalamnya. Rumah tersebut bisa kita lihat jika kita pergi ke kawasan Jalan Belimbing atau belakang pasar Banjarsari.
Sementara di Jalan Kerimunan (Jalan Salak) terdapat sebuah bangunan yang orang sekitar menyebutnya Gedoeng Gajah. Bangunan unik ini adalah rumah milik warga Tionghoa dengan taman yang luas dan ternyata didalam bangunan Gedung Gajah tersebut terdapat Sinagog atau tempat ibadah orang Yahudi.
Menurut Baliem Subarjo, salah seorang tokoh Tionghoa Pekalongan mengatakan, dahulu sekitar tahun 1960-an, kawasan Jalan Kerimunan merupakan kawasan Permukiman,bukan kawasan Perekonomian seperti sekarang ini.
Dahulu kawasan ini dihiasi dengan rumah-rumah khas Cina dan memang untuk tempat tinggal bukan berdagang.
Meskipun demikian, suasana Jalan Belimbing masih lenggang (sepi) seperti dahulu. Dan Kini citra kawasan Pecinan di Pekalongan sudah memudar karena banyak bangunan-banguna baru. Tetapi masih ada beberapa rumah yang hingga kini masih bertahan yang menjadikan kawasan ini masih tetap menarik untuk dikunjungi.

You must be logged in to post a comment Login