Daerah
Masyarakat Merapi,Gelar Labuhan Gunung Merapi

YOGYAKARTA – Gunung Merapi sampai saat ini masih menyimpan ancaman bencana yang besar, sebagaimana kejadian erupsi tahun 2010 silam. Potensi bencana serupa dapat terjadi kembali namun diperkirakan masih dalam jangka waktu yang lama.
“Letusan seperti itu tidak terjadi setiap tiga atau empat tahun karena butuh waktu lama untuk mengumpulkan energi magma,” kata Staf Ahli Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Surono kepada wartawan disela acara labuhan Merapi, Senin (9/5).
Meski demikian, pria yang akrab disapa Mbah Rono ini meminta masyarakat untuk tidak takut terhadap ancaman bahaya Merapi. Sebaliknya, keberadaan gunung aktif itu harus disyukuri karena memberikan berkah bagi warga yang bermukim di sekitarnya.
Gunung Merapi selama ini telah memberikan banyak manfaat alam seperti pasir, tanaman, batu, dan, kawasan wisata. Dia juga meyakini warga lereng Merapi mencoba hidup harmoni dengan keberadaan gunung tersebut.
Salah satunya ditunjukkan dengan penyelenggaraan acara labuhan secara rutin setiap tahun. Melalui agenda budaya ini tergambarkan rasa syukur warga, dan upaya mereka untuk hidup selaras di daerah rawan bencana.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta I Made Agung Nandaka mengimbau warga sekitar Merapi agar selalu waspada.
Diingatkan, keselamatan adalah kunci utama. Terkait penyelenggaraan Labuhan Merapi, Kepala Disbudpar Sleman Ayu Laksmidewi memandang agenda ini dapat menjadi daya tarik sekaligus untuk mengenalkan berbagai objek wisata yang ada di Merapi kepada wisatawan.
Selama dua hari rangkaian acara labuhan digelar, animo masyarakat terbilang tinggi. Prosesi Labuhan Merapi berlangsung sejak Minggu (8/5), dan kegiatan puncak diadakan Senin (9/5).
Pada puncak prosesi ini, uborampe diarak oleh abdi dalem Kraton Yogyakarta dan warga dari pendapa petilasan Mbah Maridjan menuju Pos I Srimanganti. Arak-arakan dipimpin oleh juru kunci Merapi, Kliwon Suraksohargo atau Mas Asih.
Mas Asih menerangkan, Labuhan Merapi dilaksanakan setiap bulan Rajab. Puncak acara digelar tanggal 30 Rajab. Inti acara adalah berdoa memohon keselamatan, dan mengungkapkan rasa syukur atas karunia Tuhan. (Arintoko)
Continue Reading

You must be logged in to post a comment Login